Kecanduan Berbohong !!

Kecanduan Berbohong !!

Semua orang rasanya pernah berbohong. Tapi apa jadinya kalau kamu kecanduan berbohong? Bingung sama istilah ini? Kalau bohong soal jam pulang sekolah sama orang tua, sepertinya sudah biasa. Tapi kecanduan berbohong ini adalah saat di mana kamu tidak bisa berhenti berbohong, bahkan di saat kamu tidak memerlukannya.

Menurut, psychologytoday.com, orang yang suka berbohong berbeda dengan orang yang berbohong demi menutup sesuatu. Orang yang suka berbohong biasanya memiliki masalah kejiwaan, masalah kontrol, masalah hidup. Dengan mengenyampingkan khayalan, orang yang suka berbohong biasanya ingin memiliki dunianya sendiri yang bisa dia kontrol dengan adanya kebohongannya. Menyenangkan menurut mereka.

Sekarang, tukarposisi.com akan mengajak kamu mengikuti wawancara kami dengan seorang narasumber yang telah mengaku memiliki kecenderungan berbohong bahkan saat kebohongan tidak diperlukan sama sekali. Nama narasumber kali ini adalah Rosa (nama asli disamarkan), 23 tahun, pegawai swasta.

TP: Jadi, Rosa, apakah menurut kamu, pernyataan di psyhologytoday.com cukup tepat menggambarkan situasi kamu?

Rosa: Kurang tepat sih. Soal mengontrol itu, aku kayaknya gak gitu deh.

TP: Okay, jadi menurut Rosa sendiri, kenapa sih kamu bisa kecanduan bohong? Gimana ceritanya?

Rosa: Secara personal, aku sendiri kurang ngerti kenapa aku bisa bohong terus. Tapi kalau mau berspekulasi, kayaknya karena dulu aku dipingit. Karena kekakuan orang tua, aku jadi gak bisa jalan dengan teman-teman. Diawali dengan satu kebohongan, aku menyadari aku bisa dengan mudah bohong sama orang tua untuk bisa main sama teman-teman. Sampai sekarang deh, keterusan. Padahal sekarang sudah tidak perlu bohong lagi, karena sudah masuk di umur boleh bergaul sama papa mama. Kalau pagi ditelpon aku tetap bilang, aku gak ke mana-mana, gak jalan-jalan. Padahal subuh pulang dari club sama temen-temen. Untung sekarang ngekost.

TP: Emangnya Rosa gak deg-degan ya ketika berbohong? Kok bisa berbohong segitu banyak santai aja?

Rosa: Yah, seperti kata pepatah, “Allah bisa karena biasa”. Aku awalnya juga deg-degan. Tapi makin sering bohong aku belajar banyak karakteristik jawaban papa mamaku. Seiring dengan itu juga, aku makin cepet ngangkat telepon dari mereka untuk kembali berbohong. Dulu kalau telpon bunyi pas lagi di bioskop atau makan sama temen-temen, aku langsung gugup gak karuan. Diangkat salah, gak diangkat juga bakal dimarahin.

Tapi sekarang, wow, begitu telepon mereka masuk, gak lama aku bakal selesai bohongin mereka kemudian lanjut ngerumpi atau nonton lagi sama temen-temen.  Sekarang aku bohong karena aku sudah terbiasa aja. Dan, kalau mau jujur, ketika menutup telepon dan berbohong dengan lancar, aku punya kelegaan, atau kesenangan tersendiri, karena berhasil lagi menutupi perbuatanku dari orang tua. Juga karena berhasil bohong dengan lancar ke siapapun. Aneh ya?

************************

Kalau kita katakan aneh, tidak juga. Karena mungkin itu sesuatu yang wajar akan kita lakukan kalau pernah berbohong sesering itu ketika berhadapan dengan orang lain. Tapi dari segi orang yang tidak berbohong sesering Rosa, pastilah akan jadi sesuatu yang aneh. Untuk apa berbohong kalau tidak ada yang perlu ditutupi. Karena itulah kami mengajak kalian untuk tukar posisi, karena pikiran manusia itu rumit.

Kita tidak akan bisa benar-benar menebak kehidupan ataupun jalan pikiran seseorang, siapapun itu, sebelum kita benar-benar mengalaminya, atau mendengar ceritanya secara langsung.

Dari Rosa kita belajar untuk tidak terlalu mengatur siapapun, karena semakin erat genggaman, keinginan untuk lepasnya pun semakin naik. Dan jalan apapun akan dihalalkan agar dapat lepas, termasuk berbohong, yang kemudian bisa membawa seseorang ke dalam ketergantungan yang tidak menyenangkan.

Itu cerita Rosa. Apa kamu juga kecanduan berbohong? Ayo berbagi!